<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sinergi Optima</title>
	<atom:link href="http://sinergioptima.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sinergioptima.com</link>
	<description>Konsultan Psikologi Terapan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Apr 2010 01:26:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>8 Tips menjadi orang kreatif</title>
		<link>http://sinergioptima.com/?p=182</link>
		<comments>http://sinergioptima.com/?p=182#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 01:16:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sinergi optima</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergioptima.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Saya yakin sebagian besar diantara Anda pernah menonton film Tom and Jerry, benar bukan? Iya, kisah perseteruan kucing dan tikus itu telah lama dipuar di televisi, bahkan vcd-nya tersebar di hampir seluruh toko penjual film di pinggir jalan.
Memang film tersebut tidak terlalu bagus untuk dilihat, apalagi oleh anak-anak. Meskipun kategori film hiburan untuk anak, namun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sinergioptima.com/wp-content/uploads/2010/04/lampu-kreatif.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-185" title="lampu kreatif" src="http://sinergioptima.com/wp-content/uploads/2010/04/lampu-kreatif.jpg" alt="" width="225" height="225" /></a>Saya yakin sebagian besar diantara Anda pernah menonton film Tom and Jerry, benar bukan? Iya, kisah perseteruan kucing dan tikus itu telah lama dipuar di televisi, bahkan vcd-nya tersebar di hampir seluruh toko penjual film di pinggir jalan.</p>
<p>Memang film tersebut tidak terlalu bagus untuk dilihat, apalagi oleh anak-anak. Meskipun kategori film hiburan untuk anak, namun dalam film ini terlalu banyak adegan kekerasan yang disajikan sehingga tidak baik untuk perkembangan mental anak.</p>
<p>Namun bukan itu yang ingin saya bahas disini. Satu hal yang menarik dalam film ini adalah selalu saja ada cara bagi si Tom untuk berusaha mengalahkan si kecil Jerry, dan sebaliknya, selalu ada cara si Jerry dalam memperdaya Tom, si kucing yang selalu jadi pecundang itu. Bahkan seringkali dengan cara-cara di luar yang kita pikirkan. Mereka selalu kreatif dalam mencari cara.</p>
<p>Ya selalu menemukan cara di luar hal yang biasa. Itulah yang ingin saya bahas. <em><span style="color: #008000;">Thinking out of the box</span>, </em>begitu orang mengisitilahkan.</p>
<p>Dalam situasi krisis seperti ini, <em>budget</em> yang terbatas, target yang tidak pernah turun, sebagai karyawan kita dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif. Kreatif dalam melaksanakan program kerja dan inovatif dalam mencari cara-cara baru untuk mensiasati situasi kritis seperti ini.</p>
<p>Menurut para ahli, seseorang yang kreatif bukalah selalu menemukan hal baru, namun ia selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang berbeda dari cara-cara yang biasa. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, bermanfaat, meskipun kadang tetapi dapat diimplementasikan.</p>
<p><strong>Pertanyaannya, bagaimana agar kita menjadi orang yang kreatif?</strong></p>
<p><strong><span style="color: #3366ff;">Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk menjadi kreatif:</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #ff6600;">1.  Buka mata, buka telinga</span></strong><br />
Kemampuan kita untuk selalu terbuka terhadap berbagai hal akan memberikan energi yang luar biasa untuk mampu mencintai segala sesuatu, termasuk mencintai profesi kita.</p>
<p>Dan mencintai itu harus kita lakukan dengan penuh ketulusan. Kalau kita dengan tulus melakukan pekerjaan, maka tidak akan ada beban sedikitpun yang mengganjal terhadap apapun yang ”ingin” kita lakukan.</p>
<p>“<em>I never, ever thought of myself as a businessman. I was interested in creating things I would be proud of </em>” (Richard Branson)</p>
<p><strong><span style="color: #ff6600;">2. Percaya diri</span></strong><br />
Kemampuan untuk mengenali apa yang menjadi keistimewaan kita merupakan hal terpenting dalam hidup kita. Karena itu ada istilah “mempercayai kemampuan kreatifitas anda adalah separo dari sukses itu sendiri”<br />
Untuk bisa kreatif, kita harus bisa ber”mimpi” besar untuk menggapai sesuatu. Hidup kita tidak akan bergairah kalau kita tidak memiliki impian dan target. Orang yang percaya diri akan selalu menyusun mimpi dalam dalams ebuah cita-cita hidup.<br />
<strong><span style="color: #ff6600;">3. Tanamkan semangat belajar</span> </strong><br />
<em>Look through the eyes of a child.</em><em> The art of “listening” has been mostly forgotten. God creates human with two ears and only one mouth for a good reason.</em><br />
Belajar bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan melalui cara apa saja. Anda bisa bertanya pada yang ahli, membaca buku, jalan-jalan, menonton film, mengikuti pelatihan dan kursus, seminar, <em>browsing</em> internet dan banyak lagi.<br />
Dalam kaidah Islam sering mengenal ungkapan-ungkapan seperti: ”belajarlah sampai ke negeri cina”, ”belajar dari sejak buaian ibu sampai ke liang lahat”, ”untuk meraih kebahagaiaan di dunia capailah dengan ilmu, untuk meraih kebahagiaan di akhirat capailah dengan ilmu dan untuk meraih kedua-duanya capailah dengan ilmu”.</p>
<p>Itu adalah ungkapan untuk memotivasi kita dalam membangun semangat belajar. Dan orang yang selalu belajar akan memiliki pola pikir kreatif dalam kesehariannya.<br />
<span style="color: #ff6600;">4<strong>. Berhubungan dengan orang-orang kreatif</strong></span></p>
<p>Jika ingin mengetahui karakter seseorang, lihatlah dengan siapa dia berteman. Itu mungkin ungkaan yang tepat untuk menggambarkan betapa pentingnya arti seorang teman.</p>
<p>“Sahabat terbaik adalah dia yang mampu mengeluarkan apa yang terbaik dari diri Anda” (Henry Ford)</p>
<p>Apabila Anda selalu bersama orang yang suka menyanyi, lama-kelamaan Anda juga akan senang menyanyi. Jika Anda sering berkumpul dengan para penulis atau sastrawan, paling tidak Anda akan menyukai dunia sastra. Maka jika Anda selalu berhubungan dengan orang-orang kreatif. Anda akan menjadi orang kreatif.<br />
<span style="color: #ff6600;">5<strong>.  Jadilah komunikator yang baik</strong></span><br />
Saat ini dunia begitu sempit, apa yang terjadi di belahan bumi lain akan bisa kita ketahui sekarang juga dan dimana kita berada. Jadi, untuk menumbuhkan kreatifitas kita harus bisa memanfaatkan sarana komunikasi yang ada.</p>
<p>Di zaman digital seperti ini, berbagai sarana komunikasi dapat Anda manfaatkan untuk membangun relasi dengan orang lain. Blog, friendster,  flickr, facebook, website adalah sarana-saran komunikasi yang bisa mendukung Anda mendapatkan wawasan dan teman baru.<br />
<span style="color: #ff6600;">6<strong>. Ciptakan suasana yang menyenangkan</strong></span><br />
Bermain mendorong anda dalam suatu pikiran yang berisi banyak elemen<br />
yang anda butuhkan untuk kreatif, misalnya keingintahuan, imajinasi, experimentasi, fantasi, spekulasi, atau apa saja<br />
”<em>Saya tidak pernah memiliki hari kerja dalam hidup saya. Semuanya merupakan kegembiraan</em>” (Thomas A. Edison)<br />
<span style="color: #ff6600;"><strong>7. Ciptakan lingkungan yang kondusif</strong></span></p>
<p>Berdasarkan hasil penelitian, untuk menciptakan kreativitas dibutuhkan lingkungan kerja kondusif yang menyenangkan (fun), penuh rasa humor, spontan, dan memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan. Membentuk lingkungan yang kondusif seperti itu sangatlah tidak mudah bagi sebuah organisasi. Mendorong kreativitas dalam dunia kerja menuntut iklim yang permissif terhadap existensi individualitas dan penerimaan terhadap rasa humor, disamping tetap memegang teguh rasa hormat, kepercayaan dan komitment sebagai norma yang berlaku.</p>
<p>Salah satu cara terbaik untuk mendorong kreativitas dan inovasi dalam sebuah perusahaan adalah dengan cara mengukur sejauhmana hal tersebut telah dilakukan. Perusahaan dianjurkan untuk memasukkan unsur kreativitas dan inovasi ke dalam proses evaluasi kerja. Sebagai contoh: masukan unsur penilaian tentang berapa banyak ide dari seseorang atau kelompok (teamwork) yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan. Jika hal ini terkomunikasi dengan baik maka setiap individu akan berusaha untuk memberikan ide secara konstruktif.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>8.  Keluar dari rutinitas</strong></span></p>
<p>Penempatan pegawai dengan konsep <em>the right people with the right job</em> juga merupakan cara yang tepat untuk menstimulasi munculnya kreativitas dan inovasi. Hal ini karena  penempatan pegawai pada posisi yang tepat akan mengurangi supervisi sehingga memberikan otonomi bagi individu dalam menyelesaikan masalah-masalah pekerjaannya. </p>
<p>Root-Bernstein, salah seorang penulis buku Sparks of Genius, mengusulkan pentingnya pegawai untuk keluar dari cara kerja yang rutin sehingga dapat melihat masalah pekerjaan dengan cara yang baru. Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut menurut Bernstein perlu dilakukan brainstorming secara regular. Dengan melakukan brainstorming pegawai diharapkan dapat memberikan ide dan solusi yang baru.</p>
<p>sumber: jumadisubur.com/?p=226 image sources: kampongbamboo.wordpress.com/2009/09</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergioptima.com/?feed=rss2&amp;p=182</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Kinerja Karyawan Melalui Perbaikan Lingkungan Kerja</title>
		<link>http://sinergioptima.com/?p=178</link>
		<comments>http://sinergioptima.com/?p=178#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 01:05:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sinergi optima</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergioptima.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Lingkungan kerja
Lingkungan kerja menunjuk pada hal-hal yang berada di sekeliling dan melingkupi kerja karyawan di kantor. Kondisi lingkungan kerja lebih banyak tergantung dan diciptakan oleh pimpinan, sehingga suasana kerja yang tercipta tergantung pada pola yang diciptakan pimpinan. Lingkungan kerja dalam perusahaan, dapat berupa:
Struktur tugas
Desain pekerjaan
Pola kepemimpinan
Pola kerjasama
Ketersediaan sarana kerja
Imbalan (reward system)
Struktur tugas
Struktur tugas menunjuk pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff6600;">Lingkungan kerja</span></strong><br />
Lingkungan kerja menunjuk pada hal-hal yang berada di sekeliling dan melingkupi kerja karyawan di kantor. Kondisi lingkungan kerja lebih banyak tergantung dan diciptakan oleh pimpinan, sehingga suasana kerja yang tercipta tergantung pada pola yang diciptakan pimpinan. Lingkungan kerja dalam perusahaan, dapat berupa:<br />
Struktur tugas<br />
Desain pekerjaan<br />
Pola kepemimpinan<br />
Pola kerjasama<br />
Ketersediaan sarana kerja<br />
Imbalan (reward system)</p>
<p><strong><span style="color: #ff6600;">Struktur tugas</span></strong><br />
Struktur tugas menunjuk pada bagaimana pembagian tugas dan wewenang itu dilaksanakan. Sehingga ada kejelasan tentang ’siapa bertanggung jawab apa’ serta keberadaan mekanisme pelaksanaan tugas dalam hal ”siapa bertanggung jawab kepada siapa. Struktur tugas harus jelas, dan mekanisme harus dijalankan. Jika tidak, bukan tidak mungkin seorang karyawan tidak dapat bekerja, jika mereka tidak tahu harus mengerjakan apa. Atau banyak orang yang mengendalikan atau memberi perintah langsung pada seorang karyawan, sehingga karyawan tidak tahu tugas mana yang harus diselesaikan. Akibatnya ia tidak dapat mengerjakan satupun. Untuk itu, sudah menjadi kewajiban manajemen untuk menjamin, bahwa struktur tugas bagi setiap karyawan harus jelas, beserta mekanisme dan herarki pelaksanaan tugas dipatuhi. Dalam pekerjaan karyawan yang berbentuk kelompok, maka susunan dan uraian tugas harus jelas, berikut penjadwalan waktunya.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Desain pekerjaan </strong><br />
</span>Desain pekerjaan menggambarkan kompleksitas dan tingkat kesulitan suatu tugas yang dikerjakan seorang karyawan. Jika seorang karyawan merasa bahwa tugas itu terlampau sulit dan harus melibatkan banyak fihak, maka dipastikan bahwa seorang karyawan akan dapat menyelesaikannya. Sehingga manajemen harus dapat menjamin bahwa tugas yang diberikan, dapat diselesaikan. Untuk mengupayakannya biasanya sebuah tugas disertai petunjuk teknis atau manual pelaksanaan, disamping disediakan kesempatan untuk karyawan berkonsultasi serta dilakukan pemantauan/pengendalian. Hal-hal tersebut memungkinkan karyawan dapat menyelesaikan tugasnya.</p>
<p><strong><span style="color: #ff6600;">Pola Kepemimpinan</span></strong><br />
Pola Kepemimpinan mencerminkan model kepemimpinan yang diterapkan dalam mengelola karyawan. Ada sekelompok pemimpin menerapkan praktek kepemimpinan yang berorientasi pada penyelesaian tugas (task oriented). Pada golongan pemimpin ini, aspek-aspek individual karyawan kurang mendapat perhatian. Pola ini menekankan, apapun yang dilakukan karyawan dan bagaimanapun kondisi yang terjadi pada karyawan tidak menjadi masalah. Asalkan tugas-tugas dapat diselesaikan. Pola-pola kepemimpiman demikian dapat berpengaruh pada penciptaan lingkungan kerja yang kurang baik bagi karyawan. Akibatnya ada perasaan tertekan pada karyawan. Lingkungan kerja yang tercipta penuh ketakutan mengarah ke frustasi. Jika ini berlangsung lama, maka yang terjadi adalah tingkat absensi karyawan tinggi, permintaan pindah antar unit kerja, bahkan puncaknya adalah permintaan keluar dari perusahaan dan pindah ke perusahaan yang lain.</p>
<p>Pada sekelompok pemimpin lainnya menerapkan pola kepemimpinan yang berorientasi pada manusia (human oriented). Pemimpin memusatkan perhatiannya pada kegiatan dan masalah kemanusiaan yang dihadapi, baik bagi dirinya maupun bagi karyawan. Kepemimpinan pada golongan ini lebih populis dibanding pola yang terdahulu, karena dipandang memperhatikan masalah-masalah riil yang dihadapi karyawan. Dari masalah anak sakit sampai dengan kondisi keluarga. Dari masalah stamina sampai dengan nonton bola. Akibatnya, lingkungan kerja dapat mengarah pada budaya gosip, tetapi mengesampingkan penyelesaian tugas dan standar kinerja.<br />
Pada pola yang ekstrim, kedua orientasi kepemimpinan di atas tidak ada yang efektif mengelola karyawan. Dengan kemampuan meramu dan menggabungkan keduanya, dalam banyak hal terbukti lebih efektif dalam menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi peningkatan kinerja karyawan.</p>
<p>sumber: cokroaminoto.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergioptima.com/?feed=rss2&amp;p=178</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara-cara memotivasi karyawan</title>
		<link>http://sinergioptima.com/?p=173</link>
		<comments>http://sinergioptima.com/?p=173#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 00:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sinergi optima</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[artikel motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[membangun motivasi karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[meningkatkan motivasi karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[menumbuhkan motivasi pegawai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergioptima.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Kita semua mengalami masalah apakah pekerjaan kita itu sesuai dengan yang kita dambakan. Atas dasar alasan ini langkah pertama menuju penciptaan seorang tenaga kerja yang termotivasi seharusnya dengan cara menerima karyawan yang termotivasi dari dirinya sendiri. Caranya menurut Gerald Graham, Direktur Sekolah Bisnis Universitas Wichita State, adalah dengan mengkaji riwayat dan pengalaman mereka.
Sayangnya untuk kebanyakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sinergioptima.com/wp-content/uploads/2010/04/happy-team.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-176" title="happy-team" src="http://sinergioptima.com/wp-content/uploads/2010/04/happy-team-277x300.jpg" alt="" width="243" height="269" /></a>Kita semua mengalami masalah apakah pekerjaan kita itu sesuai dengan yang kita dambakan. Atas dasar alasan ini langkah pertama menuju penciptaan seorang tenaga kerja yang termotivasi seharusnya dengan cara menerima karyawan yang termotivasi dari dirinya sendiri. Caranya menurut Gerald Graham, Direktur Sekolah Bisnis Universitas Wichita State, adalah dengan mengkaji riwayat dan pengalaman mereka.</p>
<p>Sayangnya untuk kebanyakan manajer, pekerja yang mereka miliki adalah pekerja yang terpaksa. Dengan demikian, cara selanjutnya yang harus dilakukan adalah menemukan cara untuk mempercepat dorongan di dalam diri mereka menuju kesuksesan. Sebelum mencoba ini, para manajer harus mengetahui berbagai perilaku yang memotivasi mereka.</p>
<p>Bila tujuannya telah diketahui, para manajer dapat <strong><span style="color: #3366ff;">(1) memberikan kepada pekerja keterangan yang mereka perlukan untuk melakukan sesuatu pekerjaan yang baik.</span> </strong>Ini termasuk tujuan secara keseluruhan dan misi bisnis, pekerja yang perlu dikerjakan oleh Departemen khusus, dan aktivitas kerja tertentu yang mengharuskan berkonsentrasi pada pekerjaan tersebut. Bob Nelson, Wakil Presiden Pusat Penelitian Pengembangan Blanchard dan penulis “1001 Cara Memberikan Imbalan Karyawan”, mengatakan bahwa Komunikasi Yang Terbuka membantu pekerja merasa bahwa mereka berada di dalam keputusan-keputusan penting mengenai bisnis dan membantu mereka untuk memahami prakarsa yang melandasi bisnis tersebut.<br />
Ia menambahkan, informasi itu seharusnya tidak hanya terdapat pada bagian sebelum akhir proyek atau tugas tapi juga terdapat di bagian tengah dan akhir. Dengan kata lain manajer harus<span style="color: #3366ff;"> <strong>(2) memberikan kesempatan umpan balik secara teratur.</strong></span> Seperti Ken Blanchard penulis buku “Manajer Satu Menit”, menekankan, “Pengaruh umpan balik adalah sarapan pagi para juara”.</p>
<p>Mengingat karyawan adalah para ahli pada pekerjaannya, para manajer harus<span style="color: #3366ff;"> </span><strong><span style="color: #3366ff;">(3) meminta masukan dari karyawan dan melibatkan mereka di dalam keputusan yang mempengaruhi pekerjaan mereka</span>.</strong> Suasana komunikasi terbuka dan berbagi komunikasi dua arah lebih memotivasi, jika hal itu menjadi suatu bagian pelengkap dalam menjalankan bisnis. Oleh karena itu perusahaan harus <strong>(4) membuat saluran komunikasi yang mudah dipergunakan, sehingga karyawan dapat menggunakannya untuk mengutarakan pertanyaan/kehawatiran mereka dan memperoleh jawaban.</strong> Sambungan telepon langsung, kotak saran, forum-forum kelompok kecil, tanya jawab dengan pimpinan dan “politik pintu terbuka” adalah beberapa cara yang dapat mendorong dan membesarkan hati karyawan untuk berbicara terus terang.</p>
<p>Salah satu tujuan terpenting komunikasi terbuka bagi para pimpinan adalah untuk <strong><span style="color: #3366ff;">(5) belajar dari para karyawan itu sendiri apa yang memotivasi mereka.</span></strong> Motivator dari dalam diri setiap orang berbeda, serta imbalan atas suatu pekerjaan yang dikerjakan dengan baik harus dibakukan.</p>
<p>Saul Gellerman penulis “Motivating Superior Performance” menambahkan, “Tunjukkan rasa hormatmu terhadap individu dengan menanggapi tanda yang mereka tunjukkan tentang bagaimana mereka ingin diperlakukan dan jenis pekerjaan yang ingin mereka kerjakan.” Para manajer harus <strong><span style="color: #3366ff;">(6) mempelajari apa saja kegiatan-kegiatan lain yang pekerja lakukan bila mereka mempunyai waktu luang, dan kemudian menciptakan kesempatan bagi mereka untuk melakukan kegiatan itu secara lebih teratur.</span></strong></p>
<p>Motivator terbaik adalah bila para manajer <strong><span style="color: #3366ff;">(7) memberi selamat secara pribadi kepada karyawan yang melakukan pekerjaan dengan baik</span>.</strong> Pemberian selamat ini harus dilakukan khusus dan tepat waktu.. Suatu cara untuk memastikan penghargaan adalah agar para manajer <strong><span style="color: #3366ff;">(8) terus menerus memelihara hubungan dengan orang yang mereka bawahi.</span></strong> Bila penghargaan pada karywa tidak dapat dijalankan, para manajer harus <strong><span style="color: #3366ff;">(9) menulis Memo secara pribadi kepada mereka tentang hasil kinerja mereka</span>. </strong>Karena tulisan tersebut merupakan penghargaan yang nyata, serta dampak atas “perasaan aman” itu berlangsung lama.</p>
<p>Bila manajer <strong><span style="color: #3366ff;">(10) menghargai karyawan karena pekerjaan mereka yang baik secara umum</span>. </strong>Mereka akan menyatakan bahwa karyawa yang berprestasi mengagumkan telah mendapat perhatian positif dari semua orang. Mengingat kelompok adalah suatu kenyataan yang ada di dalam perusahaan, maka upaya-upaya penghargaan juga harus termasuk di dalamnya dan harus<span style="color: #3366ff;"> <strong>(11) meliputi pertemuan-pertemuan pembentukan moril seperti “merayakan kesuksesan yang dicapai kelompok” dan tidak perlu dibesaar-besarkan cukup dengan memberitahukan kelompok pada waktu yang tepat bahwa mereka telah mengerjakan suatu pekerjaan dengan baik.</strong></span></p>
<p>Tidak ada yang melemahkan motivasi karyawan lebih cepat selain pekerjaan rutin dan pekerjaan yang tidak menantang. Bila perusahaan ingin agar karyawan melakukan pekerjaan yang baik, maka harus <strong><span style="color: #3366ff;">(12) memberi karyawan satu pekerjaan yang baik untuk dikerjakan dan para manajer harus memperlihatkan kepada karyawan bagaimana mereka dapat berkembang dan memberi kesempatan untuk mempelajari kemampuan-kemampuan baru.</span></strong></p>
<p>Langkah selanjutnya<span style="color: #3366ff;"> </span><strong><span style="color: #3366ff;">(13) memastikan apakah karyawan mempunyai sarana kerja yang terbaik.</span> </strong>Sebagai contoh perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi kesenian cenderung menjadi tempat yang menyenangkan. Mempunyai perlatan canggih membuat karyawan bangga. Kebijakan perusahaan dan praktek manajemen mempunyai suatu kemampuan yang luar biasa untuk mendorong stau merusak motivasi seseorang.</p>
<p>Perusahaan yang kurang memiliki keinginan inspiratif dapat memperbaikinya dengan menggunakan kombinasi yang mana saja dari ke-7 cara berikut:<br />
<strong><span style="color: #3366ff;">(14) Kenalilah kebutuhan-kebutuhan pribadi karyawan karena karyawan akan lebih terdorong untuk bekerja bagi perusahaan yang memperhatikan keperluan pribadinya. (15) Gagasan menggunakan kinerja sebagai sadar untuk promosi masih dianggap revolusioner.</span></strong> Membahas tentang kinerja, suatu perusahaan harus <span style="color: #3366ff;">(<strong>16) menetapkan suatu kebijakan promosi dari dalam secara komprehensif.</strong></span> Kebijakan-kebijakan tersebut harus mencakup keamanan pekerjaan dengan <span style="color: #3366ff;">(</span><strong><span style="color: #3366ff;">17) menegaskan komitmen perusahaan terhadap perkaryaan jangka panjang</span>. </strong>Beberapa pernyataan menunjukkan bahwa karyawan menuntut komitmen perusahaan yang tinggi atas keamanan kerja, namun perusahaan akan melakukan hal tertentu yang memperlancar pengkaryaan jangka panjang.<br />
Perusahaan yang<span style="color: #3366ff;"> </span><strong><span style="color: #3366ff;">(18) membantu berkembangnya rasa “bermasyarakat” sehingga karyawan akan merasa betah di dalamnya, telah hilang</span>.</strong> Politik kerja dan semangat juang yang menurun akan merampas motivasi bahkan dari orang yang berorientasi pada prestasi sekalipun.<br />
<strong><span style="color: #3366ff;">(19) Gajilah karyawan secara bersaing berdasarkan apa yang mereka kerjakan</span>.</strong> Jika karyawan merasa diberi kompensasi (gaji) yang tepat, mereka tidak akan akan begitu tertuju pada lembarslip gaji mereka dan perusahaan dapat memperoleh prestasi karyawan lebih baik lagi dari imbalan yang tidak berhubungan dengan keuangan (nonfiancial).</p>
<p>Dengan struktur gaji yang kompetitif, sebuah perusahaan dapat memotivasi orang untuk perolehan yang lebih besar dengan <strong><span style="color: #3366ff;">(20) menawarkan “pembagian keuntungan” (profit sharing) kepada karyawan</span>.</strong><br />
Kegiatan yang berdampak kuat pada jajaran karyawan paling bawah harus benar-benardikenali, karena karyawan harus mengtahui apa tujuan dari pekerjaannya. Selanjutkan agar uang mampu memotivasi karyawan, jumlahnya harus berarti bagi mereka.</p>
<p>Motivasi adalah bagaimana menghargai orang dengan martabatnya – sesuatu yang akhir-akhir ini sama sekali tidak ada lagi, dan sangat dibutuhkan bagi karywan yang mengalami stres berat atau terganggu syarafnya karena kecelakaan kerja.</p>
<p><strong>(*Kutipan dari Majalah Manajemen, Oleh Nina I.K. Permana (terjemahan dari WED) Cited from URL: http://www.lppm.ac.id, 15 Nov 2002 00:00 @ cokroaminoto.wordpress.com</strong></p>
<p><span style="color: #333333;">image sources :jumadisubur.com</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergioptima.com/?feed=rss2&amp;p=173</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penjelasan aspek inteligensi</title>
		<link>http://sinergioptima.com/?p=110</link>
		<comments>http://sinergioptima.com/?p=110#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 01:34:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sinergi optima</dc:creator>
				<category><![CDATA[file pendukung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergioptima.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[



PENJELASAN PSIKOGRAM
 
 




Di bawah ini adalah uraian singkat yang menggambarkan aspek-aspek dalam psikogram. Uraian ini berfungsi hanya sebagai petunjuk awal dalam memahami psikogram dalam laporan evaluasi psikologis Sinergi Optima. Adapun penjelasan yang lebih rinci dan utuh, dapat dicermati dalam deskripsi kepribadian.



 
 
 



ASPEK INTELIGENSI
 



 



Taraf kecerdasan
 


TS
 


mempunyai potensi kecerdasan yang amat menonjol, diprediksikan dapat dengan mudah menguasai tuntutan pekerjaan.




T
 


mempunyai potensi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table dir="ltr" border="1" cellspacing="0" cellpadding="7" width="559">
<tbody>
<tr>
<td colspan="3" height="27" valign="bottom"><strong></p>
<p style="text-align: left;" dir="ltr"><span style="color: #3366ff;">PENJELASAN PSIKOGRAM</span></p>
<p style="text-align: left;"> </p>
<p> </p>
<p></strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" height="79" valign="bottom">
<p dir="ltr">Di bawah ini adalah uraian singkat yang menggambarkan aspek-aspek dalam psikogram. Uraian ini <span style="color: #333333;">berfungsi hanya sebagai </span><span style="color: #ff9900;"><span style="color: #333333;">petunjuk awal dalam memahami psikogram dalam laporan evaluasi psikologis Sinergi Optima</span>. </span>Adapun penjelasan yang lebih rinci dan utuh, dapat dicermati dalam deskripsi kepribadian.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="6%" height="7" valign="bottom"> </td>
<td width="7%" height="7" valign="bottom"> </td>
<td width="88%" height="7" valign="bottom"> </td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" height="27" valign="bottom"><strong></p>
<p dir="ltr">ASPEK INTELIGENSI</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" height="10" valign="bottom"> </td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="7" width="6%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">Taraf kecerdasan</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">TS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mempunyai potensi kecerdasan yang amat menonjol, diprediksikan dapat dengan mudah menguasai tuntutan pekerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">T</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mempunyai potensi kecerdasan di atas kebanyakan orang pada usianya, diprediksikan akan mudah menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C+</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">Pada umumnya mempunyai kelebihan dalam merespon hal-hal yang lebih bersifat teoritis.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="61" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="61" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mempunyai potensi kecerdasan setara dengan kebanyakan orang pada usianya, diprediksikan akan mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C-</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">Pada umumnya lebih tanggap dalam merespon hal-hal yang lebih bersifat praktis.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="59" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">R</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="59" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mempunyai potensi kecerdasan di bawah kebanyakan orang pada usianya, diprediksikan akan mengalami hambatan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">RS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mempunyai potensi kecerdasan yang relatif tebatas, diprediksikan akan kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="7" width="6%" height="33" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">Daya tangkap</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="7%" height="33" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">TS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="33" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu memahami permasalahan yang amat kompleks.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="33" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">T</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="33" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu memahami permasalahan yang lebih rumit.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="33" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C+</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="33" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu memahami permasalahan yang lebih bersifat verbal.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="33" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="33" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu memahami permasalahan sehari-hari.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="33" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C-</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="33" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu memahami permasalahan yang lebih bersifat teknis.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="33" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">R</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="33" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu memahami permasalahan yang sederhana.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="33" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">RS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="33" valign="middle">
<p dir="ltr">sulit memahami permasalahan yang sederhana sekalipun.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="7" width="6%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">Daya pikir verbal &#8211; teoritis</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">TS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami persoalan verbal yang kompleks, serta merumuskan ide secara utuh dan sistematis.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">T</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami persoalan verbal, serta memberikan tanggapan dengan runtut.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C+</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami hal-hal yang bersifat verbal, lisan maupun tulisan, juga cukup mampu untuk menyampaikan suatu gagasan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami hal-hal yang bersifat verbal, lisan maupun tulisan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C-</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami hal-hal yang bersifat verbal, lisan maupun tulisan, namun agak kesulitan untuk menyampaikan suatu gagasan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">R</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami hal-hal yang bersifat verbal, tetapi terhambat dalam mengungkapkan suatu ide.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">RS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">masih mampu memahami hal-hal verbal yang sederhana, namun sulit untuk mengungkapkan ide.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="7" width="6%" height="46" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">Daya pikir kongkrit &#8211; praktis</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="7%" height="46" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">TS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle">
<p dir="ltr">cakap dalam merespon permasalahan teknis, serta mampu merumuskan suatu solusi yang bersifat sistemik.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">T</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu memahami dan memecahkan permasalahan yang bersifat praktis atau teknis.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="34" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C+</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="34" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu merespon masalah yang bersifat praktis dengan cukup baik.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="29" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="29" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu memahami permasalahan yang bersifat praktis atau teknis.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="31" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C-</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="31" valign="middle">
<p dir="ltr">masih agak terhambat dalam merespon masalah yang bersifat praktis.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="29" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">R</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="29" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu memahami permasalahan yang bersifat operasional.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">RS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle">
<p dir="ltr">masih mampu memahami permasalahan operasional yang sederhana, namun memerlukan banyak bimbingan teknis.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="7" width="6%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">Kemampuan berpikir logis</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">TS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu mengoptimalkan informasi yang terbatas untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang tepat.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">T</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu menggunakan informasi yang kompleks dalam suatu kerangka berpikir yang sistematis.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C+</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu menggunakan informasi dalam suatu proses berpikir yang runtut secara konsisten.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu menggunakan informasi dalam suatu proses berpikir yang runtut.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C-</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu menggunakan informasi dalam suatu proses berpikir yang runtut selama tidak mendapatkan tekanan dalam pekerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">R</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">sulit dalam mengolah informasi secara sistematis, tetapi masih mampu mengambil kesimpulan yang masuk akal.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">RS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">seringkali menarik kesimpulan yang kurang sesuai dengan informasi yang tersedia.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="7" width="6%" height="46" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">Daya ingat</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="7%" height="46" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">TS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu mengingat banyak hal, yang membuat tugas dapat diselesaikan dengan lebih cepat.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">T</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu mengoptimalkan daya ingatnya, hingga dapat mengingat hal-hal yang menunjang pekerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="36" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C+</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="36" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu menggunakan daya ingat dengan efektif dalam setiap situasi.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="35" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="35" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu mengingat hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C-</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu menggunakan daya ingat dengan efektif selama tidak mendapatkan tekanan dalam pekerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">R</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu mengingat sebagian saja dari hal-hal yang bersifat penting, sehingga memerlukan bantuan baik berupa alat maupun informasi dari orang lain.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">RS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle">
<p dir="ltr">seringkali melupakan hal-hal yang bersifat penting, sehingga menghambat penyelesaian tugas.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="7" width="6%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">Fleksibilitas berpikir</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">TS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu segera memberikan tanggapan yang tepat, meskipun dihadapkan pada tuntutan kerja yang dinamis.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">T</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami permasalahan, serta memberikan tanggapan yang sesuai dengan permasalahan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C+</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami permasalahan dari beberapa sudut pandang yang berbeda dalam menghadapi masalah yang kompleks.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami permasalahan dari beberapa sudut pandang yang berbeda.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C-</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami permasalahan dari beberapa sudut pandang yang berbeda, namun terbatas pada masalah yang lebih sederhana.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">R</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami permasalahan dari sudut pandang tertentu.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">RS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="46" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">terpaku pada suatu sudut pandang, meskipun kurang sesuai dengan permasalahan yang sedang dihadapi.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="7" width="6%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">Daya analisis</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">TS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu menguraikan masalah, sekaligus mengevaluasi informasi yang tersedia dalam pengambilan keputusan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">T</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu menguraikan masalah dan menemukan faktor yang esensial dalam permasalahan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C+</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu menguraikan permasalahan, serta mampu menghubungkan antara berbagai hal yang relevan dalam permasalahan yang kompleks.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu menguraikan permasalahan, serta mampu menghubungkan antara berbagai hal yang relevan dengan permasalahan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C-</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu menguraikan permasalahan, serta mampu menghubungkan antara berbagai hal yang relevan dalam permasalahan yang lebih sederhana.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">R</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu menguraikan permasalahan, namun kesulitan untuk menemukan faktor yang esensial dalam permasalahan .</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">RS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">hanya mampu menemukan sebagian kecil diantara banyak hal yang relevan dengan permasalahan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="7" width="6%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">Daya sintesis</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">TS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu merumuskan dugaan yang tepat, dengan informasi yang relatif terbatas.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">T</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu merumuskan dugaan yang tepat berdasarkan berbagai informasi yang telah tersedia.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C+</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu menghubung-hubungkan berbagai informasi, yang menunjang perumusan dugaan atas suatu permasalahan yang kompleks.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu menghubung-hubungkan berbagai informasi, yang menunjang perumusan dugaan atas permasalahan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C-</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu menghubung-hubungkan berbagai informasi, yang menunjang perumusan dugaan atas suatu permasalahan yang lebih sederhana.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">R</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu menghubungkan informasi, namun sulit untuk merumuskan suatu dugaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">RS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">terpaku pada suatu informasi, sehingga kesulitan untuk mengembangkan dugaan yang luas atas permasalahan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="7" width="6%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">Keluasan wawasan</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">TS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mempunyai wawasan yang menonjol, yang banyak membantu dalam menguasai pekerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">T</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mempunyai wawasan yang cukup luas, yang dapat menunjang pekerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C+</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mempunyai minat mengamati lingkungan, serta optimal menerapkannya dalam pekerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mempunyai minat untuk mengamati lingkungannya.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C-</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mempunyai minat mengamati lingkungan, namun kurang optimal menerapkannya dalam pekerjaan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">R</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mempunyai minat yang terbatas atas lingkungannya.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">RS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">kurang mempunyai minat untuk mengamati lingkungan, sehingga pengetahuannya kurang berkembang.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="7" width="6%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">Daya pikir komprehensif</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">TS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu menggunakan pemahaman atas konteks masalah untuk memcahkan masalah secara efektif.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">T</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami masalah secara menyeluruh.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C+</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami masalah sebagai bagian dari suatu konteks yang lebih luas pada permasalahan yang kompleks.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami masalah sebagai bagian dari suatu konteks yang lebih luas.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C-</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memahami masalah sebagai bagian dari suatu konteks yang lebih luas pada permasalahan yang lebih sederhana.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">R</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu menangkap adanya permasalahan, tetapi kesulitan untuk mengintegrasikannya dengan konteks yang lebih luas.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">RS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="bottom">
<p dir="ltr"> </p>
<p dir="ltr">melihat permasalahan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.</p>
<p dir="ltr"> </p>
<p dir="ltr">?</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="7" width="6%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">Daya pikir numerik-administratif</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">TS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu mengerjakan tugas-tugas perhitungan dengan sangat sistematis dan teliti.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">T</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu mengerjakan tugas-tugas perhitungan dengan hati-hati.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C+</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu bekerja sistematis dan mengolah data-data yang memerlukan perhitungan yang lebih kompleks.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu bekerja sistematis dan mengolah data-data yang memerlukan perhitungan sederhana.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">C-</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu bekerja sistematis dan mengolah data-data yang memerlukan perhitungan yang lebih sederhana.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">R</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">mampu mengerjakan tugas-tugas perhitungan, namun seringkali melakukan kesalahan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle"><strong></p>
<p dir="ltr">RS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle">
<p dir="ltr">sulit bekerja dengan sistematis, serta seringkali ceroboh dan banyak melakukan kekeliruan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="7" width="6%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">Kreatifitas</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">TS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mudah menyesuaikan diri dengan berbagai bentuk masalah, serta cepat menemukan solusi yang orisinal.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">T</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memecahkan masalah yang lebih kompleks dengan efektif.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C+</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memecahkan permasalahan dengan solusi yang cukup orisinal.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memecahkan permasalahan sehari-hari.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">C-</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memecahkan permasalahan dengan solusi yang diambil dari cara yang digunakan sebagian besar orang pada permasalahan serupa.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">R</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mampu memecahkan permasalahan sederhana, dengan cara yang agak bersifat coba-coba.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="7%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0"><strong></p>
<p dir="ltr">RS</p>
<p> </p>
<p></strong></td>
<td width="88%" height="42" valign="middle" bgcolor="#c0c0c0">
<p dir="ltr">mencari solusi masalah sederhana, terbatas dengan cara yang telah biasa digunakan sebelumnya.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergioptima.com/?feed=rss2&amp;p=110</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persiapan menghadapi FGD</title>
		<link>http://sinergioptima.com/?p=106</link>
		<comments>http://sinergioptima.com/?p=106#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 01:22:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sinergi optima</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergioptima.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Persiapan menghadapi FGD pada proses rekrutmen
  FGD secara sederhana bisa didefinisikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan secara sistematis dan terarah atas suatu isu atau masalah tertentu. Meskipun terlihat sederhana, menjalankan FGD butuh kemampuan tertentu. Beberapa perusahaan atau biro psikologi menggunakan FGD ( Focus Discussion Group) atau Diskusi Kelompok Terarah, ada juga yang menyebutnya sebagai LGD atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #3366ff;">Persiapan menghadapi FGD pada proses rekrutmen</span></strong></p>
<p>  FGD secara sederhana bisa didefinisikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan secara sistematis dan terarah atas suatu isu atau masalah tertentu. Meskipun terlihat sederhana, menjalankan FGD butuh kemampuan tertentu. Beberapa perusahaan atau biro psikologi menggunakan FGD ( Focus Discussion Group) atau Diskusi Kelompok Terarah, ada juga yang menyebutnya sebagai LGD atau Leaderness Group Discussion sebagai salah satu bagian dalam proses seleksi atau dalam pelaksanaan psikotes. Dalam pelaksanaannya, peserta tes akan dibagi menjadi beberapa kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 4 sampai 7 orang. Setiap kelompok akan diberikan sebuah kasus yang harus didiskusikan bersama. Kasus ini bisa berupa isu-isu yang sedang hangat diperbincangkan media, atau kasus-kasus dimana anda akan dihadapkan pada pilihan-pilihan tertentu atau mungkin juga kasus fiktif yang mungkin tidak akan Anda temui dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaan FGD ini setiap anggota kelompok diharapkan memberikan gagasan atau ide yang dimiliki dalam mencari solusi yang dirasa paling tepat. Waktu yang biasanya diberikan dalam FGD ini antara 20 sampai 30 menit.</p>
<p> <strong><span style="color: #ff9900;">Keuntungan menggunakan FGD…??</span></strong></p>
<p> Beberapa perusahaan atau biro psikologi menggunakan FGD sebagai pengganti wawancara, namun ada juga yang tetap melakukan wawancara walaupun telah dilakukan FGD. Metode FGD ini biasanya dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Efisiensi waktu, sehingga pemandu FGD dapat membuat<br />
keputusan secara cepat karena FGD mengungkap beberapa aspek sekaligus dari para pelamar kerja</li>
<li>Para pewawancara ingin melihat calon pekerja dari berbagai aspek<br />
pekerjaan yang diinginkan</li>
<li>Para pewawancara dapat melengkapi beberapa informasi yang telah didapatkan pada tahap sebelumnya.</li>
<li>Para pewawancara ingin melihat kemampuan calon pekerja dalam<br />
berkomunikasi dalam situasi “under pressure”</li>
</ol>
<p><strong><span style="color: #ff9900;">Apa yang harus dilakukan ketika FGD…??</span></strong></p>
<p>Ketika sedang berada dalam tahap ini hal yang penting untuk dipersiapkan adalah <span style="color: #339966;"><em>rasa percaya diri dan sikap yang tenang.</em> </span><strong><em><span style="color: #339966;">Pertama</span>,</em></strong> pastikan anda menyimak dengan sebaik-baiknya kasus seperti apa yang sedang Anda hadapi sehingga anda memiliki pemahaman yang utuh mengenai kasus tersebut. Dengan pemahaman yang baik ini, anda akan lebih bisa menyikapi kasus tersebut secara kontekstual. Manfaatkan waktu yang diberikan dengan sebaik-baiknya karena biasanya kasus-kasus dalam FGD memiliki beberapa alternatif penyelesaian sekaligus. Jangan terlalu terburu-buru mengambil sikap karena bisa jadi anda belum mempertimbangkan beberapa aspek yang seharusnya anda perhatikan dalam kasus tersebut sehingga alternative solusi yang anda sumbangkan kepada kelompok menjadi kurang efektif. <strong><em>Kedua,</em></strong> bersikaplah proaktif dan komunikasikan ide atau gagasan anda kepada kelompok dengan gaya bahasa dan gesture yang sopan dan wajar. Untuk bisa melakukan ini tentu anda harus percaya diri, percaya dengan kemampuan anda sendiri sehingga orang lain juga yakin dan mendengarkan ide anda dengan seksama. Selanjutnya jangan takut menyanggah pendapat orang lain apabila anda merasa pendapat orang lain tersebut kurang sesuai dengan kasus yang harus disikapi. Argumentasi dari orang lain justru penting agar penyelesaian yang didapatkan kelompok benar-benar sempurna.</p>
<p><span style="color: #ff9900;"> <strong>Apakah yang dinilai dari FGD…??</strong></span></p>
<p> Walaupun FGD bentuknya kelompok namun sikap setiap individu juga mendapatkan perhatian karena sebenarnya FGD ini dimaksudkan untuk menilai sikap seseorang dalam menghadapi permasalahan atau situasi di luar dirinya. Bagaimana seseorang melihat permnasalahan, mengkomunikasikan isi pikirannya tapi tetap bis amenghargai ide atau gagasan orang lain serta mengambil sikap pada situasi tersebut. Maka cara ketrampilan komunikasi dan kepercayaan diri menjadi hal yang penting pada FGD.</p>
<p> Sekilas memang FGD terlihat sebagai proses yang sederhana, namun tetap saja proses ini dilakukan untuk melihat profile Anda. Jadi persiapkan diri anda sebaik-baiknya untuk menghadapi tahap ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergioptima.com/?feed=rss2&amp;p=106</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Faktor apa yang mempengaruhi hasil psikotes?</title>
		<link>http://sinergioptima.com/?p=104</link>
		<comments>http://sinergioptima.com/?p=104#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 01:20:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sinergi optima</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergioptima.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[PSIKOTES : MENGENAL LEBIH JAUH DAN SEBERAPA BESAR FAKTOR FISIK DAN PSIKOLOGIS MEMPENGARUHI HASILNYA…??
 Psikotes bagi sebagian orang adalah sesuatu yang sangat penting dan mendapatkan perhatian lebih dari para calon pesertanya. Begitu mendapatkan panggilan untuk psikotes, banyak orang yang berbondong-bondong membuka situs yang menyajikan topik-topik sekitar psikotes seperti tips dan trik menjalani psikotes, uji coba psikotes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #3366ff;">PSIKOTES : MENGENAL LEBIH JAUH DAN SEBERAPA BESAR FAKTOR FISIK DAN PSIKOLOGIS MEMPENGARUHI HASILNYA…??</span></strong></p>
<p> Psikotes bagi sebagian orang adalah sesuatu yang sangat penting dan mendapatkan perhatian lebih dari para calon pesertanya. Begitu mendapatkan panggilan untuk psikotes, banyak orang yang berbondong-bondong membuka situs yang menyajikan topik-topik sekitar psikotes seperti tips dan trik menjalani psikotes, uji coba psikotes gratis, cara lolos psikotes, dan banyak topik psikotes yang lainnya. Banyak juga yang langsung meluncur ke toto-toko buku untuk membeli beberapa buku yang mengulas psikotes. Bagi sebagian besar orang psikotes adalah penentu akhir apakah ia diterima atau tidak pada pekerjaan yang dilamar sehingga sangat penting bagi mereka untuk “mengenal” psikotes lebih jauh. Bahkan bebarapa orang menganggap psikotes sebagai momok yang menakutkan sehingga berharap tidak usah melewati  psikotes dan langsung ke tahap berikutnya. Sebenarnya apakah psikotes itu? Secara operasional psikotes dapat diartikan sebagai serangkaian tes psikologi yang dilakukan untuk tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Maka dalam psikotes terdapat beberapa materi sekaligus seperti tes intelegensi, tes kepribadian dan biasanya dilengkapi dengan observasi, wawancara kerja atau FGD (Focus Group Discussion). Setiap tes selalu memiliki tujuan tertentu, aspek apa saja yang diukur. Hasil dari psikotes ini adalah <em>profile</em> mengenai diri Anda yang sebenarnya. Selanjutnya adalah menyesuaikan antara <em>profile</em> diri Anda dengan <em>Job Des</em> yang dimiliki oleh perusahaan. Apakah <em>profile</em> Anda sesuai dengan karakter tugas pekerjaan yang ditawarkan sehingga Anda bisa bergabung dalam perusahaan tersebut ataukah <em>profile </em>Anda masih belum sesuai dengan karakter dari pekerjaan yang ditawarkan. Kesesuaian ini penting, karena ketika<em> profile</em> Anda <em>match</em> dengan karakter pekerjaan, Anda akan <em>enjoy</em> dalam bekerja dan kinerja Anda akan optimal.  Hal ini jelas selain menguntungkan Anda sendiri dimana Anda merasa <em>happy</em>, cocok dengan pekerjaan, tidak merasa tertekan oleh pekerjaan, merasa nyaman bekerja, juga memberikan keuntungan bagi perusahaan karena dengan menempatkan orang yang tepat jelas akan memperlancar bisnis perusahaan. Ilmu psikologi memang mempelajari tetek bengek mengenai perilaku manusia, maka psikotes dapat menjadi salah satu <em>tool</em> untuk memprediksi kecenderungan perilaku seseorang. Mirip peramal…? Bukan begitu juga, karena sebenarnya psikotes terutama tes kepribadian berupaya membaca karakter, sifat Anda berdasarkan apa yang sedang Anda kerjakan. Di psikologi di kenal adanya alam bawah sadar, nah ketika Anda mengerjakan tes kepribadian, alam bawah sadar Andalah yang sebenarnya bekerja. Dengan melihat respon-respon Anda terbeberlah kecenderungan sifat Anda dan menghasilkan sebuah deskripsi yang akhirnya diserahkan kepada perusahaan. Melihat hal seperti ini sebenarnya tidak ada orang yang ditolak dalam pekerjaan yang ada adalah orang yang belum sesuai dengan karakter pekerjaan yang ditawarkan. Memang tidak ada ijasah atau apapun lah yang melegitimasi seseorang bahwa ketika ia lolos psikotes pada satu perusahaan akan selalu lulus pada psikotes di perusahaan manapun. Walapun alat tes nya sama tapi untuk posisi yang berbeda, cara menyikapi hasil tesnya juga berbeda, semuanya disesuaikan dengan kebutuhan. <em>Well,</em> sebegitu pentingnya ya psikotes? Lalu apa yang perlu diperhatikan ketika kita akan menghadapi psikotes…?</p>
<p>Dua hal penting yang perlu Anda persiapkan ketika menghadapi psikotes adalah kondisi fisik Anda dan kondisi psikologis Anda. Dua hal ini penting Anda persiapkan karena peran keduanya terbilang penting. Kita akan bahas keduanya satu persatu demi pemahaman yang lebih dalam.</p>
<p> <strong><span style="color: #ff6600;">Faktor fisik. </span></strong></p>
<p>Faktor ini menyangkut kesiapan fisik Anda menghadapi psikotes seperti kondisi fisik Anda secara umum. Persiapan secara fisik perlu Anda lakukan, karena ketika fisik Anda sedang tidak fit maka kinerja Anda kurang optimal dan hasilnya juga kurang optimal. Hal yang penting untuk diketahui adalah bahwa pengerjaan psikotes membutuhkan fokus, konsentrasi, dan kinerja otak. Maka untuk bisa memenuhi prasyarat tersebut Anda harus dalam kondisi sehat atu fit, tidak sedang sakit atau baru saja melakukan pekerjaan berat. Itulah sebabnya pelaksanaan psikotes perlu dijadwalkan mulai pagi sampai siang atau sore hati dengan memberi waktu istirahat seperlunya ketika psikotes berlangsung. Sebelum pelaksanaan psikotes ada baiknya Anda makan dulu karena tenaga yang digunakan dalam pengerjaan psikotes tidak lah sedikit. Ketika Anda berada dalam kondisi yang kurang fit maka konsentrasi Anda akan mudah beralih, tidak bisa berfikir secara baik bahkan merasa sangat terganggu dengan keluhan sakit yang sedang Anda rasakan. Hal yang kemudian sangat mungkin terjadi adalah Anda menjawab pertanyaan secara asal-asalan, asal mengerjakan. Kalaupun Anda mencoba memanfaatkan sisa-sisa tenaga Anda, sangat mungkin Anda hanya bisa konsentrasi pada awal-wal tes saja, padahal seperti yang telah dijelaskan di atas, psikotes biasanya terdiri dari beberapa materi tes sesuai dnegan kebutuhan. Maka kita sudah bisa menebak apa yang terjadi ketika Anda tidak dalam kondisi fisik yang fit. Mengerjakan asal-asalan dan hasilnya pun tidak optimal dan hasil akhirnya kita juga sudah bisa tebak yaitu buruknya profile yang terdeskripsikan karena memang itulah hasil Anda. Menghadapi hal semacam ini maka Anda sebagai peserta psikotes harus <em>aware</em> dan menyesuaikan kesiapan fisik Anda dengan jadwal psikotes. Jika Anda diminta untuk melaksanakan psikotes ketika kondisi fisik Anda sedang tidak fit, atau Anda baru saja selesai bekerja di shift malam sementara jadwal psikotesnya pagi hari maka Anda perlu mengkomunikasikan hal tersebut kepada pihak perusahaan dengan harapan perusahaan bisa menjadwalkan ulang psikotes Anda. Perusahaan sendiri juga harus <em>aware</em> dengan hal ini karena seperti yang telah dijelaskan bahwa kondisi fisik yang sedang tidak fit memang dapat memberikan pengaruh terhadap hasil dari psikotesnya itu sendiri. Mungkin ada beberapa psikotes yang menjadikan sakit sebagai alasan agar pelaksana psikotes atau perusahaan memaklumi nilainya dan berharap ia bisa dilihat dari factor yang lain. ‘pak, maaf ya hari ini saya sedang sakit, ya mohon nilainya di up lah biar kelihatan lebih baik, lagipula saya sudah pengalaman di bidang pekerjaan ini, bisa lah ini jadi pertimbangan” atau “iya pak maaf, kemarin pas psikotes saya sedang sakit, ya mohon diulang psikotesnya”. Meng-<em>up</em> nilai atau mengulang psikotes jelas bukan sebuah keputusan yang tepat. Meninggikan nilai psikotes agar terlihat “bagus” jelas merupakan sebuah pelanggaran. Mengulang psikotes juga bukan alternative penyelesaian yang sesuai karena jelas Anda telah mengalami apa yang disebut sebagai faktor belajar apalagi jika Anda dikirim ke konsultan psikologi yang sama dengan alat tes yang sama pula. Selain itu hal ini juga dapat mengaburkan hasil psikotes itu sendiri karena Anda telah tahu pola dari psikotes yang sedang Anda hadapi. Maka hal yang paling mungkin Anda lakukan adalah melakukan tindakan prevenstif yaitu mengkomunikasikan kondisi Anda yang sebenarnya kepada perusahaan. Jadi pastikan Anda berada dalam kondisi fisik yang fit ketika sedang melaksanakan psikotes.</p>
<p> <strong><span style="color: #ff6600;">Faktor psikologis/ psikis.</span></strong></p>
<p>Yang dimaksud dengan kondisi psikologis disini adalah kesiapan Anda secara mental dalam menghadapi psikotes. Ketika menghadapi psikotes pastikan Anda tidak sedang merasa cemas, tertekan, kondisi mood yang tidak baik atau sedang mengalami peristiwa hidup yang menyedihkan. Kondisi psikis Anda yang tidak baik saat mengerjakan materi-materi dalam psikotes akan mempengaruhi <em>interest</em> (minat, ketertarikan) Anda untuk mengerjakan psikotes secara sungguh-sungguh. Anda tidak termotivasi secara penuh untuk menyelesaikan serangkaian pelaksanaan psikotes tersebut. Dalam keadaan tertekan misalnya, konsentrasi Anda tidak akan sebaik ketika Anda sedang dalam kondisi yang tenang dan stabil. Padahal dalam psikotes dibutuhkan kemauan dari dalam diri Anda sendiri untuk mengeluarkan segenap potensi dan kemampuan yang tercermin dari kesungguhan Anda dalam mengerjakan psikotes tersebut. Pernah suatu ketika ada peserta psikotes yang bersikeras melakukan psikotes padahal ada keluarganya yang kecelakaan dan harus opname di Rumah Sakit. Memang saat itu ia bisa menyelesaikan semua materi yang diperlukan, namun jelas konsentrasinya tidak penuh dan lagi-lagi sangat mungkin ia mengerjakan ala kadarnya. Sekali lagi pra syarat dari pelaksanaan psikotes adalah adanya focus, konsentrasi dan kinerja otak, maka ketika secara psikis Anda merasa kurang nayaman focus dan konsentrasi Anda akan mudah beralih dan tidak bisa berfikir secara jernih dan lagi-lagi hal ini akan berpengaruh pada hasil psikotesnya. Maka seperti yang sudah disarankan di atas, komunikasikan lah hal-hal yang menyangkut kesiapan Anda baik secara fisik maupun psikis kepada perusahaan. Karena bagaimanapun kegiatan psikotesnya ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan namun juga kebutuhan pesertanya terkait kebutuhan untuk mengaktualisasikan kemampuannya dalam hal pekerjaan.</p>
<p>Hal yang selanjutnya juga perlu diperhatikan adalah sikap Anda ketika psikotes. Memang psikotes membutuhkan fokus dan konsentrasi, namun sangat penting bagi Anda untuk tetapi bersikap rileks selama mengerjakan materi-materi psikotesnya. Terlalu tegang justru dapat membuat konsentrasi Anda mudah buyar dan menghilangkan fokus kerja Anda. Tetaplah bersikap tenang dan santai. Perhatikan setiap intruksi/ petunjuk yang diberikan oleh <em>tester</em> dan kerjakan setiap materi sesuai dengan kemampuan Anda. Percaya dengan kemampuan Anda sendiri adalah kuncinya. <em>Be your self</em>, melihat atau memperhatikan jawaban peserta yang lain kadang justru membuat Anda cemas dan khawatir apalagi jika Anda merasa pertanyaan yang bisa Anda jawab lebih sedikit dari jawaban peserta yang lainnya. Bekerjalah secara mandiri. Ingat, jawaban peserta yang lainnya belum tentu benar, lembar jawaban yang terisi penuh tidak berarti mereka memiliki nilai yang tinggi.</p>
<p>Satu hal lagi yang juga penting adalah percaya diri dan berfikir positif, karena perasaan positif akan membantu Anda dalam menghadapi psikotes. Energi positif dari dalam diri kita akan menarik energi positif pula dari luar diri kita sehingga bisa mensupport kinerja kita selama psikotes berlangsung. Jadi pastikan Anda sedang dalam kondisi psikis yang baik dan stabil saat psikotes berlangsung.</p>
<p> Antara persiapan fisik dan psikis, mana yang lebih penting…? Kedua hal ini saling berhubungan, maka tidak ada salahnya Anda menyiapkan keduanya. Kondisi fisik yang baik/ fit akan membuat Anda bekerja secara lebih optimal. Kondisi psikis yang baik dan perasaan positif akan membuat fisik merasa sehat/ fit dan membuat kita lebih nyaman menghadapi psikotes. Sebaliknya perasaan negatif dapat menurunkan motivasi Anda dalam menghadapi psikotes itu sendiri. Kondisi fisik yang turun juga dapat mempengaruhi konsentrasi Anda dalam menyelesaikan materi-materi psikotes. Jadi pastikan ANda dalam kondisi yang fit dan kondisi fisik yang baik pula ketika menghadapi psikotes jika Anda menginginkan hasil yang optimal dan benar-benar menggambarkan profile Anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergioptima.com/?feed=rss2&amp;p=104</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persiapan menghadapi psikotes</title>
		<link>http://sinergioptima.com/?p=102</link>
		<comments>http://sinergioptima.com/?p=102#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 01:17:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sinergi optima</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergioptima.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Seberapa seringkah anda menjalani psikotes…?
Persiapan seperti apakah yang selama ini anda lakukan sebelum psikotes…?
Apakah anda berburu buku-buku kiat menjalani psikotes sebelum benar-benar menjalaninya…?
Psikotes pada dasarnya adalah sebuah tes psikologi yang diberikan dengan suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Psikotes menyangkut semua tes yang berhubungan dengan psikologi, berupa alat diagnosa dan prognosa dari suatu fenomena yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seberapa seringkah anda menjalani psikotes…?</p>
<p>Persiapan seperti apakah yang selama ini anda lakukan sebelum psikotes…?</p>
<p>Apakah anda berburu buku-buku kiat menjalani psikotes sebelum benar-benar menjalaninya…?</p>
<p>Psikotes pada dasarnya adalah sebuah tes psikologi yang diberikan dengan suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Psikotes menyangkut semua tes yang berhubungan dengan psikologi, berupa alat diagnosa dan prognosa dari suatu fenomena yang akan diketahui. Oleh karena itu psikotes bukanlah hanya tes yang berhubungan dengan <em>pencil-and-paper test</em> saja, tetapi bentuk lain seperti wawancara dan observasi dapat juga digolongkan sebagai psikotes jika tujuannya untuk mengetahui suatu gejala psikologis tertentu.</p>
<p>Perlu diingat bahwa dalam psikotes sebenarnya membutuhkan sebuah spontanitas dan orisinalitas respon/jawaban untuk bisa menggambarkan kepribadian yang sebenarnya dalam diri Anda. Benar-benar menggambarkan profil pribadi anda berisi kelemahan dan kelebihan yang anda miliki, dan keputusan tentang anda dibuat.</p>
<p><strong><span style="color: #339966;">Berikut tips agar anda dapat menjalankan psikotes dengan optimal:</span></strong></p>
<ul>
<li>Persiapkan diri anda secara fisik &amp; mental. Dalam menjalankan psikotes butuh stamina yang prima. Jaga kondisi fisik, mood, istirahat yang cukup sebelum hari H.</li>
<li>Datang lebih awal dari waktu yang terlah ditentukan agar Anda merasa lebih tenang dalam mengerjakan soal nantinya.</li>
<li>Kerjakan dengan sungguh-sungguh. Bertanyalah jika belum mengerti dengan instruksi yang diberikan. Untuk beberapa tes psikologi ada batasan waktu, jadi pergunakan waktu yang diberikan dengan seefisien mungkin. Atur energi dan fokus Anda ketika mengerjakan soal-soalnya.</li>
<li>Jangan melihat jawaban orang lain. Kerjakan sesuai dengan kemampuan diri anda dan sesuai kepribadian anda. Psikotes sama halnya dengan pemotretan, namun psikotes menangkap profile Anda secara psikologis. Be your self adalah cara yang paling tepat sehingga hasilnya benar-benar merupakan gambaran diri anda yang sesungguhnya</li>
<li>Berusahalah untuk rileks dan konsentrasi pada tes. Jangan terlalu tegang, karena  dapat membuat konsentrasi anda mudah terpecah.</li>
<li><em>Positive thingking</em> dan yakinlah dengan apa yang Anda kerjakan, jangan lupa untuk berdoa agar Tuhan senantiasa memberikan hasil yang terbaik kepada Anda.</li>
</ul>
<p>Untuk selanjutnya perusahaan memiliki otoritas penuh pada diterima atau tidaknya anda di perusahaannya. Yang perlu diingat bahwa perusahaan membutuhkan kandidat yang sesuai dengan posisi yang diinginkan. Kalaupun anda “tidak lolos” dalam tes psikologi bukan berarti anda tidak mampu untuk bekerja diperusahaan tersebut, namun kualifikasi anda kurang sesuai dengan kualifikasi yang diinginkan perusahaan. Jadi, jangan berkecil hati kenali diri anda dan potensi yang anda miliki. <strong><span style="color: #ff9900;">Selamat berjuang!!!   ……</span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergioptima.com/?feed=rss2&amp;p=102</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meminimalisir pengaruh media terhadap anak</title>
		<link>http://sinergioptima.com/?p=100</link>
		<comments>http://sinergioptima.com/?p=100#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 01:15:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sinergi optima</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergioptima.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Setelah mengetahui beberapa dampak negatif dari media (kuhususnya televisi), maka ayah dan bunda  perlu memperbesar kembali perannya dalam menentukan tayangan televisi yang layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Berikut ini terdapat beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan:
 Ayah dan bunda membuat batasan pada diri sendiri untuk tidak menonton televisi. Ketika merasa lelah atau bosan dengan kegiatan rumah, ayah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Setelah mengetahui beberapa dampak negatif dari media (kuhususnya televisi), maka ayah dan bunda  perlu memperbesar kembali perannya dalam menentukan tayangan televisi yang layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Berikut ini terdapat beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan:</strong><strong></strong></p>
<p><span style="color: #3366ff;"> <strong>Ayah dan bunda membuat batasan pada diri sendiri untuk tidak menonton televisi</strong></span>. Ketika merasa lelah atau bosan dengan kegiatan rumah, ayah dan bunda suka menonton TV. Maka sebaiknya ketika ayah dan bunda merasakan hal tersebut, dapat dialihkan dengan melakukan kegiatan lain seperti mengajak anak bermain. Hal tersebut  akan memberikan contoh pada anak bahwa banyak cara yang dapat dilakukan selain menonton TV ketika sedang merasa bosan atau jenuh.</p>
<p><strong><span style="color: #3366ff;">Mengikutsertakan anak dalam membuat batasan</span></strong>. Yaitu menetapkan apa, kapan, dan seberapa banyak acara TV yang boleh ditonton. Tujuannya, agar anak menjadikan kegiatan menonton TV hanya sebagai pilihan, bukan kebiasaan. Ia menonton hanya bila perlu. Selain itu akan mengajarkan pada anak bahwa mereka harus memilih (acara yang paling digemari), menghargai waktu dan pilihan, serta menjaga keseimbangan kebutuhan mereka.</p>
<p><span style="color: #3366ff;"><strong>Konsisten dalam bertindak</strong>.</span> Ayah bunda dan pengasuh, perlu untuk selalu bertindak secara konsisten dan tidak bosan-bosannya dalam memberikan pengertian kepada anak, sehingga anak tahu dengan jelas mana yang boleh mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang buruk.</p>
<p><strong><span style="color: #3366ff;">Mendampingi anak ketika menonton dan memberi penjelasan.</span></strong> Banyak hal yang belum diketahui oleh seorang anak, oleh karena itu kalau tidak ada yang memberi tahu ia akan mencari sendiri dengan mencoba-coba dan meniru dari orang dewasa.</p>
<p><strong><span style="color: #3366ff;">Menentukan acara yang dapat ditonton oleh anak.</span> </strong>Antara lain, yang mengandung unsur pendidikan (seperti acara televisi yang menampilkan pesan-pesan moral di akhir cerita) dan mempromosikan nilai-nilai sosial (misalnya acara yang menampilkan unsur persahabatan, keramahan, sikap pantang menyerah, dan perbuatan menolong orang lain).</p>
<p><strong><span style="color: #3366ff;">Memilah acara yang tidak sesuai untuk ditonton oleh anak.</span> </strong>Diantaranya, yang menayangkan adegan-adegan kekerasan. Misal: menjahili teman sampai teman tersebut terluka. Acara-acara televisi yang menggunakan bahasa yang kurang sopan atau merendahkan orang lain. Misal: “Dasar bajingan!”. Program anak-anak namun menampilkan adegan orang dewasa, misalnya: adegan pacaran dan rayuan. Program acara anak-anak yang menampilkan adegan mistis. Misal: Kaos kaki yang dapat berbicara. Tayangan televisi dengan pemain yang memakai busana yang kurang sesuai. Misal: Memakai rok mini atau memakai <em>tank top</em>.</p>
<p>Untuk melakukan hal ini tentu saja dibutuhkan kesabaran dan pengorbanan dari ayah bunda, untuk sementara, ayah dan bunda harus mengorbankan kesenangannya sendiri menonton televisi demi mencari-cari dan menyeleksi program televisi yang cocok untuk anak tercinta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergioptima.com/?feed=rss2&amp;p=100</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tayangan televisi yang tepat untuk anak</title>
		<link>http://sinergioptima.com/?p=98</link>
		<comments>http://sinergioptima.com/?p=98#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 01:11:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sinergi optima</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergioptima.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Perlu ayah dan  bunda ketahui, saat ini banyak film yang ditujukan untuk anak-anak namun ternyata cerita maupun pesan yang terkandung didalamnya tidak layak disebut sebagai tontonan anak-anak. Salah satunya adalah fim kartun.
Menurut Kidia, (Kritis Media untuk Anak), terdapat sebanyak 84% film kartun anak mendominasi siaran televisi di Indonesia. Namun, berdasarkan hasil pemantauan, menunjukkan banyak film [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perlu ayah dan  bunda ketahui, saat ini banyak film yang ditujukan untuk anak-anak namun ternyata cerita maupun pesan yang terkandung didalamnya tidak layak disebut sebagai tontonan anak-anak. Salah satunya adalah fim kartun.</p>
<p>Menurut Kidia, (Kritis Media untuk Anak), terdapat sebanyak 84% film kartun anak mendominasi siaran televisi di Indonesia. Namun, berdasarkan hasil pemantauan, menunjukkan banyak film kartun yang sebenarnya tidak layak dikosumsi anak usia sekolah dasar, apalagi prasekolah.</p>
<p>Apakah ayah dan bunda tahu? Tayangan televisi mempengaruhi perkembangan kecerdasan, kemampuan berpikir dan imajinasi anak yang disebabkan kehadiran dua stimulus terus-menerus melalui bunyi dan gambar yang terus bergerak. Hal tersebut mengakibatkan kemampuan anak untuk berkonsentrasi jadi pendek, yaitu hanya antara dua hingga tujuh menit.</p>
<p>Dampak negatif tayangan televisi lainnya adalah berkurangnya aktivitas fisik sehingga anak menjadi kurang terampil, kurang aktivitas, misalnya bermain, kurang sosialisasi dan komunikasi. Pada akhirnya, keterampilan emosi dan sosial anak tidak terlatih. Anak jadi malas dan kurang termotivasi untuk belajar.</p>
<p>Dampak tayangan TV yang lebih buruk terhadap anak adalah meningkatnya agresivitas dan kekerasan dan kematangan seksual secara lebih cepat. Salah satu cntohnya, pernahkah ayah bunda melihat atau membaca berita mengenai anak usia 4 tahun yang meloncat keluar jendela lantai 2 rumahnya dan ia tewas. Hal tersebut ternyata dipengaruhi tayangan film kartun, dimana tokoh didalamnya tidak akan terluka walaupun dipukul, terlindas mobil ataupun jatuh dari ketinggian.</p>
<p>Anak seusia mereka, belum dapat membedakan antara hal yang tidak nyata dengan hal yang sesuai dengan kenyataan. Oleh sebab itu, ayah dan bunda sebagai orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersama anak, sebaiknya lebih memperhatikan dan memilah tayangan televisi yang ditonton oleh anak.</p>
<p> Sumber: Buletin PAUD ANAK CERIA UNAIR Volume III Tahun III</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergioptima.com/?feed=rss2&amp;p=98</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengembangkan kreativitas melalui kecerdasan majemuk</title>
		<link>http://sinergioptima.com/?p=96</link>
		<comments>http://sinergioptima.com/?p=96#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 01:10:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sinergi optima</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[multiple intelligence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergioptima.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Berkaitan dengan kreativitas yang dimiliki anak, kita juga dapat mengembangkannya melalui berbagai kecerdasan yang pada dasarnya dimiliki oleh setiap anak, diantaranya yang berkaitan dengan kecerdasan jamak (multiple intelligences). Dr. Howard Gardner merupakan pencetus teori Multiple Intelligence, yang terdiri dari 8 jenis kecerdasan yang meliputi:
Kecerdasan verbal/linguistik 
Kecerdasan ini dapat diketahui melalui kegiatan bercakap-cakap, berdiskusi dan membaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berkaitan dengan kreativitas yang dimiliki anak, kita juga dapat mengembangkannya melalui berbagai kecerdasan yang pada dasarnya dimiliki oleh setiap anak, diantaranya yang berkaitan dengan kecerdasan jamak <em>(multiple intelligences)</em>. Dr. Howard Gardner merupakan pencetus teori <em>Multiple Intelligence</em>, yang terdiri dari 8 jenis kecerdasan yang meliputi:</p>
<p><strong><span style="color: #339966;">Kecerdasan verbal/linguistik </span></strong></p>
<p>Kecerdasan ini dapat diketahui melalui kegiatan bercakap-cakap, berdiskusi dan membaca serta kemampuan dalam menggunakan kata-kata secara efektif, lisan atau tulisan. Berbagai cara dalam menumbuhkan kecerdasan ini adalah dengan membaca, menulis, maupun bercerita.</p>
<p><strong><span style="color: #339966;">Kecerdasan visual-spatial</span></strong></p>
<p>Kecerdasan ini melibatkan kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ukuran, ataupun luas, seperti yang dilakukan dalam kegiatan melukis, menggambar, dll.</p>
<p><strong><span style="color: #339966;">Kecerdasan musik irama</span></strong></p>
<p>Yaitu kepekaan dalam mendengarkan suara, musik, dan suara lainnya.</p>
<p><strong><span style="color: #339966;">Kecerdasan kinestetik dan gerakan tubuh ( <em>bodily – kinesthetic</em>)</span></strong></p>
<p>Berkaitan dengan kepekaan dan keterampilan dalam mengontrol koordinasi gerakan tubuh melalui gerakan motorik kasar dan halus, seperti menggunakan alat-alat secara terampil, melompat, berlari, melakukan gerakan senam atau gerakan menari dll.</p>
<p><strong><span style="color: #339966;">Cerdas Matematika dan Logika</span></strong></p>
<p>Berkaitan dengan kepekaan dalam hitungan dan berpikir abstrak serta logis dan ilmiah.</p>
<p><strong><span style="color: #339966;">Cerdas Sosial</span></strong></p>
<p>Dapat ditunjukkan melalui kemampuan berkomunikasi dengan orang lain, bekerja sama, serta segala sesuatu yang melibatkan hubungan dengan orang lain disekitarnya.</p>
<p><strong><span style="color: #339966;">Cerdas Diri</span></strong></p>
<p>Yaitu kepekaan dalam melakukan instrospeksi terhadap diri sendiri dan membandingkannya dengan kelemahan dan kekuatan orang lain.</p>
<p><strong><span style="color: #339966;">Kecerdasan naturalis</span></strong></p>
<p>Berkaitan dengan kepekaan dalam mengapresiasi alam dan lingkungan sekitar. Tugas kita, orangtua maupun guru sebagai pendidik adalah berusaha sebaik mungkin untuk menemukan dan mengembangkan sebanyak mungkin kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing anak yang dapat mendukung kemampuan kreativitasnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergioptima.com/?feed=rss2&amp;p=96</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

