Mengembangkan kreativitas anak

Kreativitas merupakan suatu pilihan, bukan bakat. Setiap anak berpotensi menjadi kreatif. Dalam teori perkembangan, John Locke menyatakan bahwa setiap anak sewaktu baru lahir, diibaratkan selembar kertas putih, bagaimana ia kelak, tergantung apa yang ditulis diatasnya.  Jadi, potensi menjadi seorang anak yang kreatif juga tidak membedakan ia laki-laki ataupun perempuan. Walaupun seringkali kita mendengar stereotip yang membedakan keduanya, seperti anak laki-laki lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat fisik atau mekanis, sedangkan anak perempuan lebih tertarik pada hal yang imajinatif, domestik ataupun yang berkaitan dengan pengasuhan.

Sejak fase perkembangan sensori motorik, anak dapat diarahkan untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar sehingga mendukung perkembangan kreativitasnya agar lebih optimal. Salah satu cara mengembangkan kreativitas anak adalah melalui kegiatan menggambar dan mewarnai. Melalui kegiatan tersebut, anak akan menjadi bebas berekspresi. Sering kita melihat anak menggambar dengan bentuk yang kurang jelas, seperti bulatan-bulatan yang disebutnya sebagai gambar pohon, lalu ia mewarnai pohon  tersebut dengan warna merah. Itulah yang dinamakan imajinasi sebagai bagian dari kreativitas. Kita tidak perlu membatasi anak dengan menekankan bahwa gambar pohon seharusnya seperti apa, atau warna pohon sesungguhnya adalah hijau, karena hal tersebut justru dapat menghambat daya imajinasi dan juga kreativitas anak-anak.

 Selain itu, melalui kegiatan menggambar dan mewarnai, juga dapat mengembangkan kemampuan motorik halus, serta anak dapat belajar mengenal warna. Jadi, sebenarnya orangtua tidak perlu membeli alat-alat permainan konstruktif yang mahal untuk mengoptimalkan daya kreativitas anak, cukup dengan menyediakan kertas dan juga pensil warna. Dorongan dari orangtua melalui pujian yang menunjukkan bahwa karya yang dihasilkan anak dihargai, dapat mendukungnya untuk lebih mengembangkan kemampuan kreativitas. 

Jadi, perlu kita ketahui, coretan maupun goresan warna terkadang tidak begitu berarti bagi orang tua, namun dalam perkembangan anak usia dini hal itu menjadi sangat berarti.

 Sumber: Buletin PAUD ANAK CERIA UNAIR Volume II Tahun II

Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically to your feed reader.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)